Hasan Gauk Aktivis pantai selatan lombok : Nelayan Berpesta Kenapa Kalian Murka?


OPINI, SUARASELAPARANG - Dalam setiap kebijakan, akan muncul antara yang pro dan kontra, yang untung dan buntung. Dan itu sudah menjadi hal klasik yang harus kita terima. Namun yang terpenting, kebijakan tersebut berpihak pada siapa?!

Hari ini, seperti yang kita baca di salah satu media besar seperti Tempo, seolah-olah, kekayaan laut kita akan punah dengan kebijakan baru Mentri Edhy Prabowo yang memperbolehkan nelayan melakukan ekspor benih bening Lobster. Lalu kita ikut bersepakat mendukung penolakan ekspor tersebut. Tanpa kita pernah mau mencari tahu, seberapa diuntungkannya masyarakat nelayan kita. 

Begini, Lobster itu tidak sama dengan minyak, mineral, emas, tembaga, nikel yang memerlukan jutaan tahun. Bahkan, cara mendapatkan jenis-jenis itu harus merusak alam, menggali tanah, memenjarakan masyarakat, bahkan tak jarang sampai membunuh. Kok kita diam-diam saja melihat kondisi alam yang digali sampai berkilo-kilo meter itu?

Dengan kebijakan baru ini, perubahan Permen KP 12, adalah pesta para nelayan, berbeda dengan porsi (tambang) yang tidak akan pernah dapat kembali seperti sedia kala. Lobster itu produksi (netas) rutin. Kok kalian enggak protes? Tambang itu bisnisnya para elit, orang kaya, sementara Lobster adalah bisnisnya nelayan miskin, kenapa kalian larang? 

Asal kalian tahu, pesisir pantai kita nomor dua terpanjang di dunia, yaitu sekitar 81.000 km, dan sekitar 9.261 Desa masuk dalam kategori Desa pantai. Masih banyak rakyat di negeri ke tiga ini yang gagap terhadap pemahaman mereka terhadap laut. Orang-orang kota (aktivis) memaksa diri untuk terlibat memahami kondusifitas masyarakat nelayan. Padahal mereka kerap membohongi diri mereka sendiri, kapan mereka pernah benar-benar peduli terhadap kemiskinan masyarakat nelayan? 

Seharusnya kita marah, marah semarah-marahnya terhadap banyaknya kemiskinan di negeri ini. Bagaimana selama ini citra kemiskinan nelayan ini sesungguhnya suatu ironi, mengingat Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, lebih luas daripada wilayah darat. Di dalam wilayah laut juga terdapat berbagai sumberdaya yang memiliki potensi ekonomi tinggi, yang semestinya dapat 
dimanfaatkan untuk menjamin kesejahteraan hidup nelayan dan keluarganya.

Benur Lobster mati lebih dari 90 persen jadi makanan ikan atau tidak survive. Dari sekian ribu, yang mampu bertahan hanya 0,2%, artinya; kalau tidak dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan, maka itu bentuk kesia-siaan, dan dalam agama. Itu sangat bertentangan. 

"Kenapa kita tidak membudidayakan dan mengekspor yang besar?" Begini bos, masyarakat itu butuh makan, biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya. Budidaya itu jangka panjang bos. Mereka juga melakukan aktivitas budidaya, juga melakukan kegiatan tangkap sebagai biaya kebutuhan mereka, baik untuk keberlangsungan budidaya dan kehidupan mereka. “Tapi bagai mana kalau Lobster itu nanti punah” itu fiksi yang sangat tidak adil bagi nelayan. 

Dalam menyambut perubahan Permen KP 12 ini, semua harus terlibat, transparan, dan selama kau masih memiliki KTP Indonesia, maka kau berhak terlibat. Dulu, banyak para mafia bermain, black market. Dan itu hanya menguntungkan segelintir orang, hanya mereka yang memiliki modal besar yang diuntungkan. Harga dipermainkan, nelayan kita terlalu sering dieksploitasi oleh pihak luar untuk kepentingan mereka. Sekarang, kebijakan itu telah berpihak terhadap masyarakat nelayan, kenapa kita ribut? Apakah kalian lebih senang melihat kemiskinan yang kerap dialami masyarakat pesisir?! 

Dalam menyambut kebijakan baru ini, semua harus terlibat, nelayan-pengepul-pengusaha-eksportir-dan pemerintah. Agar kedepan, citra kemiskinan masyarakat nelayan hanya sebagai dongeng untuk anak cucu kita. 

Redaksi Suaraselaparang



Previous Post Next Post

Adsense