Kisah Inspiratif Nendy Wahyu, Rela Jadi TKI Demi Lanjutkan Pendidikan


Selong,SUARASELAPARANG -Mantan Pekerja Migran Indonesia pada Tahun 2012 silam ini bernama Nendy Wahyu (26), sosok pemuda yang kini tersenyum bangga lantaran di belakang namanya terdapat gelar Serjana Pendidikan (SPd).

Kendati gelar itu menurut sebagian orang biasa saja, namun bagi pria yang saat ini menjadi tokoh pemuda dan penggiat sosial di Desa Anjani Kecamatan Suralaga, gelar itu sangat sarat makna. Terlebih ketika mengingat kembali perjuangan Nendy untuk mendapatkannya.

Nendy pun memulai kisahnya saat sekitar lima bulan pasca merayakan kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2012 silam, Nendy memutuskan untuk mendaftarkan diri di antara ribuan Pekerja Migran Indonesia pada tahun itu, untuk mengadu nasib. Nendy mengaku niatnya hanya satu tujuan, “Saya ingin lanjut kuliah,“ ujarnya.

Di sela-sela kesibukannya menjadi relawan pendistribusian bantuan ke masyarakat Desa Pringgasela Timur, kepada suaraselaparang.com, Nendy dengan khidmat melanjutkan ceritanya.

Nendy pun tidak begitu menghiraukan ketika ditanya tentang jurusan yang hendak dia ambil.
Menurut Nendy, kita harus tetap sekolah, karena sekolah bukan ibarat kandang domba seperti yang diungkapkan kebanyakan orang, namun merupakan instrumen untuk menjadikan kita manusia yang berpikir rasional serta berbudi pekerti. Ungkap Nendy sama seperti tulisan di akun facebook miliknya.

Pada tahun 29 November 2012 pertama kalinya Nendy menginjakan kaki di negeri Jiran tempat tegaknya menara kembar dan tumbuhnya jutaan sawit, Malaysia. Hingga pada 27 November 2014, kontrak kerja yang ditandatangani dulu habis, lalu Nendy memutuskan tidak melanjutkan kontrak.

Nendy juga menuturkan bahwa terkadang ekspektasi tidak sejalan dengan realita, “Pola pikir masyarakat dan gaya atau style dua tahun lalu sungguh tidak relevan, perubahan begitu cepat," tutur Nendy.

Sepulangnya dari Malaysia, satu tahun beradaptasi dengan kondisi desa, pada Juni 2015, Nendy kemudian mendaftar di salah satu Perguruan Tinggi di Lombok Timur yaitu di Universitas Gunung Rinjani.

Nendy juga mengatakan awal menjadi mahasiswa tidak mudah. Karena diribetkan dengan baju berkerah, “Semua baju saya Oblong," ungkapnya sambil tersenyum. Senyumnya pun makin mengembang karena pada kuliah perdana dia mengaku sempat meminjam baju temannya.

“Sungguh ironi memang, namun begitulah perjalanan dan  perjuangan mantan TKI ini, yang ingin sekolah dan menggapai cita-citanya” sebutnya.

Nendy juga menyampaikan bahwa selang beberapa bulan menjadi mahasiswa baru, dia mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam, di situlah awal petualangan baru yang mengantarkan dirinya dipercaya menjadi pengurus beberapa organisasi besar di kampus.

Sampai pada akhirnya, dia dipertemukan dengan Ridho, salah seorang pemuda asal Dusun Bila Kembar, Desa Suela yang memotivasi dan menginspirasinya.

Ridhi bahkan mempercayakan Nendy memimpin salah satu lembaga sosial yang di inisiasi oleh Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI Foundation) yang kini menjadi garda terdepan dalam kegiatan sosial di Desa Anjani.

Dalam tulisanya di Sosial Media, Nendy juga menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menyangka bisa melanjutkan pendidikan, mimpi dan usaha mengantarkanya pada titik yang semua orang bisa raih.

"Saya adalah satu dari sekian anak muda yang punya mimpi besar, namun selalu dihambat dengan permasalahan ekonomi dan keadaan. Saya adalah salah satu di antara beribu pemuda yang berjuang merubah keadaan terpuruk, mulai dari diri sendiri hingga mencapai orang-orang yang sejengkal lebih dekat dengan saya. Hari ini saya buktikan saya bisa menyelsaikan study pada waktu yang tepat dan tepat waktu," tegasnya

“Karena mimpi seorang Pemuda adalah keniscayaan, ini sebagai bahan pembuktian kepada khalayak bahwa permasalahan ekonomi dan keadaan tidak akan mampu membendung mimpi seorang pemuda, tidak peduli mereka dari mana, namun mimpi mereka harus tetap setinggi langit," tutup Nendy sembari sumringah. ( SS-06 )

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense