Kisah M. Rojib, Penyandang Tunanetra Bertahan Hidup Kala Pandemi


Selong, SUARASELAPARANG - M. Rojib menjadi penyandang tunanetra pada usia 25 tahun. Kehilangan penglihatannya merupakan momok yang sangat mengerikan baginya, terasa seperti menjalani setengah kematian. Terlebih saat itu, usianya yang masih terbilang sangat muda, dia harus menanggung beban kehilangan penglihatannya.

M. Rojib tinggal di Dusun Galih, Desa Pringgajurang Utara, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur, NTB. Dia merupakan anak sulung dari 3 bersaudara. Dia memiliki istri dan seorang anak laki-laki berumur sekitar 2 tahun, yang tetap setia menemani dan merawatnya.

M. Rojib merupakan pria yang pandai bergaul, dia berhasil menamatkan sekolahnya sampai SMA. Sebelum buta Rojib termasuk laki-laki pekerja keras, kesehariannya ia berjualan pentol keliling.  

Saat diwawancara suaraselaparang.com (03/07/2020), Rojib menceritakan awal mula hilangnya penglihatannya pada tahun 2018. Saat akan berangkat jualan pentol. Dia sekonyong melihat lingkaran seperti awan, pandangannya pun mulai kabur dan dia pingsan. 
“Ketika saya mau menaikkan rombong dagangan, sekilas saya melihat seperti awan dan tubuh saya terasa lemas dan langsung pingsan,” tuturnya.

Terbangun dari pingsannya, seketika pandangannya gelap dan dia tidak bisa melihat. Bebagai usaha untuk berobat telah di lakukan. Seperti mencoba obat tradisional dari dukun tetapi hasilnya belum bisa mengembalikan penglihatannya. Bahkan dia pernah memeriksakan matanya di RSUD Soedjono Selong, tetapi analisa dokter bahwa dia tidak memiliki penyakit, seperti penyakit katarak. Dokter hanya mendiagnosa bahwa Rojib hanya lemah secara fisik.

Akibatnya, dia pun kehilangan pekerjaannya. Hampir tidak ada yang bisa dikerjakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Istrinya pun tidak bekerja, sehingga untuk makan sehari-hari, biasanya dia menerima bantuan dari pemberian saudaranya, keluarga maupun tetangganya.

M. Rojib mengakui, bahwa selama ia menyandang status sebagai tunanetra, tidak pernah ada perhatian atau bantuan khusus yang di terima baik dari Pemerintah Desa maupun Pemerintah Daerah. Hanya saja ketika pandemi Covid-19 merebak, dia mendapat bantuan dari BLT Dana Desa.

“Alhamdulillah, sekarang saya mendapatkan bantuan BLT Dana Desa, sehingga ini sangat bergguna bagi keluarga saya untuk memenuhi kebutuhan hidup,” tuturnya dengan nada senang.

Terakhir dia berharap adanya perhatian khusus bagi penyandang tunanetra, baik itu berupa bantuan berupa kebutuhan pokok maupun bantuan dalam bidang pelatihan skill bagi tunanetra.

“Saya berharap adanya pelatihan keterampilan bagi tunanetra seperti saya ini, sehingga saya bisa punya pekerjaan di atas keterbatasan saya. Bagaimanapun juga saya punya tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anak dan istri saya,” tutup Rojib.
(SS-03)
Previous Post Next Post

Adsense