Kisah Suparlan, Trash Hero Dari Tetebatu Selatan


Selong, suaraselaparang- Suparlan ( 50 tahun ), pria yang berasal dari Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur, Lombok Timur ini telah berhasil mengubah pandangan buruk masyarakat tentang sampah menjadi peluang bisnis. 

Awal mulanya, Suparlan terinspirasi setelah bekerja di Gili hampir 30 tahun, sehingga ia belajar tentang kebersihan lingkungan. Sampah-sampah berbahan plastik, terutama sampah yang berasal dari kantong kresek dan pembungkus cemilan menjadi momok yang buruk bagi lingkungan. 

“Sampah plastik bekas pembungkus cemilan ini mau jadi apa? Tidak digunakan karena yang biasa dimanfaatkan masyarakat hanya botol plastik bekas. Bahkan bungkus plastik ini tidak difungsikan dan tidak dipungut oleh pemulung, dan biasanya yang membuat kumuh dan jorok yaitu sampah jenis pembungkus plastik ini,” jelas Suparlan.

Suparlan pun mengisahkan, setelah kontraknya di Gili berakhir pada tahun 2017, ia lantas pulang kampung. Kemudian di akhir tahun 2018, ia mulai bergerak membuat Kelompok Daur Ulang Sampah (Kedus). Kelompok ini aktif membersihkan lingkungan setiap hari Ahad di lingkungan Desa Tete Batu Selatan.

Desa Tetebatu terkenal sebagai desa pariwisata sehingga banyak turis-turis yang datang berkunjung. Berbekal kemampuannya dalam bergaul dan berkomunikasi dengan turis, ia pun banyak belajar dari mereka tentang pengelolaan/daur ulang sampah-sampah. 

"Saya diberi ide oleh seorang turis asal Prancis untuk memanfaatkan sampah dan langsung saya mempraktikkannya dengan membuat bantal sofa,” tuturnya.

Proses pemanfaatan sampah plastik ini pun sangat sederhana, setelah ia mengumpulkan sampah plastik bekas bungkus makanan/cemilan, sampah itu kemudian dicuci sampai bersih dan dijemur sampai kering. Setelah kering, sampah ini dipotong kecil-kecil secara manual menggunakan gunting. Hasil setelah digunting inilah yang kemudian digunakan sebagai isi bantal buatannya.

Percobaan yang dilakukan tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hasil pertama bantal yang dibuat yaitu bantalnya berat dan suara plastik yang didalam bantal sangat berisik. Sehingga ia terus bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang bagus, empuk dan nyaman ketika digunakan.


“Ternyata semakin kecil/lembut hasil potongannya, maka hasilnya semakin empuk bantalnya dan semakin banyak sampah yang dibutuhkan untuk mengisi satu bantal,” tegasnya.

Adapun beberapa hasil dari karyanya yaitu bantal sofa, bantal lapis jok mobil, bantal leher dan bean bag triangle yang 95% materialnya berasal dari sampah bekas pembungkus cemilan. 

Seiring berjalannya waktu, ia tidak menyangka ternyata ada orang peduli dan melirik usahanya tersebut. Seorang turis dari Prancis tertarik dengan usahanya dan menawarkan modal untuk mengembangkan usaha bantalnya tersebut. 

“Saya membutuhkan mesin pemotong bungkus plastik, kebetulan ada teman saya dari Surabaya yang mendesain mesin. Mesin lalu dibuat di Bandung dengan harga sekitar Rp 46 juta. Alhamdulillah mesin itu, dibayarkan oleh turis itu,” terangnya. 

Kini hasil produksi bantal Suparlan sudah banyak di gunakan di penginapan-penginapan yang ada di sekitar Desa Tetebatu induk, Tetebatu Selatan, Kembang Kuning dan Barang Panas.

Beberapa di antaranya juga menyebar  di Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno, bahkan sudah banyak yang memesan hingga ke mancanegara.

Untuk bahan seperti sampah bungkus plastik tidak sulit didapatkan, karena di semua sekolah dan kios-kios yang ada di desa Tetebatu Selatan ia berikan karung untuk menampung sampah bungkus plastik. Sehingga pinggir jalan di Desa Tetebatu Selatan terlihat bersih dan sedap dipandang.

Kualitas hasil produknya tidak kalah dengan bantal berbahan isi styrofoam/dakron, bahkan bisa di bilang tingkat keempukannya sama. 

“Kelebihan produk yang saya buat ini adalah sangat empuk dan tidak akan bisa kempes, tinggal di jemur maka akan mengembang kembali,” tutupnya.
( SS-03 )

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense