NTB Menuju NTB (Nurut Tatanan Baru) Bukan New Normal


Mataram, Suaraselaparang - NTB sejauh ini ditengah pandemi Covid-19 sudah mencanangkan program NTB (Nurut Tatanan Baru) bukan New Normal.

Pasalnya apabila pemerintah menerapkan program New Normal, masyarakat justru menangkapnya berbeda. Masyarakat membuang kata New dan hanya menerapkan Normal.

Kepada media suaraselaparang Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) provinsi NTB Hj. Dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A Rabu (01/07/2020) di Kantor Dinas Kesehatan NTB menjelaskan bahwa, "Apabila kita menerapkan sistem New Normal, masyarakat berfikirnya berbeda, meraka mengambil Normalnya lalu membuang jauh New nya."

Sehingga praktiknya masyarakat hidup seperti sebelum Corona, tanpa mengikuti protokol kesehatan, enggan menggunakan masker, Kesana kesini berkerumunan. Alasannya adalah Normal itu tadi, "jelasnya.

Ia juga menekankan kepada semua pihak agar menghilangkan istilah new normal di NTB, sebab NTB sendiri mempunyai program yang berbeda dengan tujuan yang sama, yaitu program Nurut Tatanan Baru (NTB).

Program Nurut Tatanan Baru (NTB) ini diharapkan bisa menanamkan kepada masyarakat sikap toleransi kepada sesama

Toleransi yang kami maksut disni adalah tetap mengikuti protokol kesehatan Covid-19, bukan bertanding-tanding gagah dan kuat, bukan berarti dia yang gagah dan mengaku kuat bebas tidak mngikuti protokol, disinilah kami tekankan toleransi itu tadi, menggunakan masker bukan hanya saja untuk melindungi diri, namun lebih juga untuk melindungi masyarakat disekitar dari tularan Covid-19, karena bisa saja kita yang bugar ini terkena Covid-19 namun masuk OTG (orang tanpa gejala), khawatirnya masyarakat yang lain terkena nantinya oleh kita."Perjelasnya.

Program ini kedepannya semoga membuat NTB kembali seperti semula, dalam program ini tentunya tidak terlepas dari adanya pertimbangan dari faktor epidemiologi, surveilance kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan yang kemudian dirangkum menjadi 15 indikator dalam penerapan program ini.

Dari sisi epidemiologi, ada 11 indikator. Pertama, penurunan jumlah kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target lebih dari 50 persen). Kedua, penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target lebih dari 50 persen). Ketiga, penurunan jumlah meninggal dari kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target lebih dari 50 persen).

Keempat, penurunan jumlah meninggal dari kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target lebih dari 50 persen). Kelima, penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target lebih dari 50 persen). Dan keenam, penurunan jumlah kasus ODP dan PDP yang dirawat di RS selama 2 minggu ter akhir dari puncak (target lebih dari 50 persen)

Selanjutnya, indikator ketujuh, kenaikan jumlah sembuh dari kasus positif. Kedelapan, kenaikan jumlah selesai pemantauan dan pengawasan dari ODP dan PDP. Kesembilan, penurunan laju kasus positif per seratus ribu penduduk. Kesepuluh, penurunan angka kematian per seratus ribu penduduk. Kesebelas, RT-Angka reproduksi efektif di bawah angka 1.

Sementara dari faktor surveilance kesehatan masyarakat, ada dua indikator. Pertama, jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama 2 minggu. Kedua, positivity rate kecil dari 5 persen.

Dari faktor pelayanan kesehatan, juga ada dua indikator. Pertama, jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS rujukan mampu menampung sampai dengan 20 persen jumlah pasien positif Covid-19. Kedua, jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung sampai dengan 20 persen jumlah ODP, PDP, dan pasien positif Covid-19.

Yang menjadi harapan kita bersama untuk terlaksananya program ini dengan baik adalah keikutsertaan seluruh elmen masyarakat untuk mengikuti protokol dan himbauan pemerintah yang ada, bukan sepenuhnya dilepas kepihak kesehatan dan gugus tugas saja melainkan semua masyarakat bersama bersinergi mewujudkannya dengan baik."Tutupnya. (SS-04)
Lebih baru Lebih lama

Adsense

Promo