Peran Penting Wayang Kulit dalam Penyebaran Islam di Lombok


Foto Ilustrasi pewayangan

Suaraselaparang, Ketika disebut “wayang kulit”, bisa jadi di dalam benak kita yang tergambar adalah figur dari kulit yang dimainkan seorang dalang. Kita juga pasti kenal banget dengan tokoh seperti Arjuna, Bima, Semar, Petruk, Gareng, atau Bagong.

Ya, itu wayang kulit dari Jawa. Umumnya cerita pewayangan Jawa (juga Bali) bersumber dari kisah Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India.

Tapi pernahkah dengar wayang sasak dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan tokoh seperti Jayengrana atau Wong Agung Menak?

Ya, tokoh Jayengrana bila di Jawa menjadi tokoh dalam wayang menak. Wayang menak umumnya berisi kisah-kisah Islam. Maklum, wayang sasak memang muncul di Lombok bersamaan dengan penyebaran Islam di wilayah tersebut.

wayang sasak adalah wayang kulit yang berkembang di Lombok. Kemunculannya diperkirakan bersamaan dengan penyebaran agama Islam di sana sekitar abad 16. Penyebarnya adalah Sunan Prapen putra dari Sunan Giri yang merupakan anggota walisongo.

Perlu kita ketahui bersama, Sunan Giri menggubah wayang gedog, dan bersama Pangeran Tranggono dari Kesultanan Demak menciptakan wayang “Kidang Kencana” pada 1447. Jadi, nggak menutup kemungkinan bahwa Sunan Prapen juga membawa wayang ke Lombok.

Tapi ada pendapat lain nih, Millens, yang mengatakan bahwa wayang di Lombok diciptakan oleh Pangeran Sangupati, seorang mubalig. Tapi kebenarannya pun masih belum teruji. Pasalnya, belum ada data historis yang meyakinkan kapan wayang di sana dibuat dan dipergelarkan.

Seperti sudah disebutkan, cerita wayang sasak nggak berasal dari sumber India. Cerita wayang yang ditulis di daun lontar dalam bahasa Jawa dengan huruf Sasak itu memiliki persamaan cerita dengan Wayang Wong Menak di Jawa. Wajar saja, wayang di Lombok sering disebut dengan wayang menak. Inti ceritanya menggambarkan perjuangan para tokoh Islam yang dipimpin oleh Amir Hamzah, atau di Jawa sering disebut Amir Ambyah.

Ya, sumber cerita wayang sasak itu bersumber pada buku Serat Menak yang terdiri atas tujuh jilid. Di dalamnya berisi tentang penaklukan raja atau penguasa yang belum masuk Islam. Selain tujuh jilid tersebut, masih ada satu lagi yang diberi tajuk Liang Lahad. Ini jilid yang mengisahkan gugurnya Prabu Jayengrana.

Sebagai sebuah pertunjukan, wayang sasak tentu saja mempunyai tujuan. Apa? Selain sebagai hiburan, wayang sasak awalnya menjadi medium dakwah penyebaran Islam. Selanjutnya, pergelaran wayang sasak juga dijadikan bagian upacara adat seperti khitanan, cukur rambut, dan sebagainya.

Selain Jayengrana yang menjadi tokoh sentral dalam wayang sasak, terdapat Munigarim, istri Jayengrana yang berpendirian teguh, juga sakti. Ada pula Umar Maya, sosok gemuk, pendek, berperut buncit, tapi punya kebijaksanaan luar biasa, dan Umar Madi. Keduanya menjadi pendamping setia Jayengrana.

Tokoh favorit lainnya adalah Selandir (Alam Daur), bagai Bima di pewayangan Jawa yang sangat kuat, dengan postur tubuh tinggi besar. Ia mengandalkan kekuatan fisik dan sangat ditakuti dalam peperangan. Ada juga Saptanus dan Santanus, tokoh kembar yang memberikan pertimbangan strategi kepada Jayengrana.

Maka tugas kita bersama kedepannya adalah melestarikan keaarifan lokal ini dengan baik, selain sebuah ketetapan budaya namun pada dasarnya wayang kulit juga merupkan peninggalan  sesepuh kita sebagai umat muslim.

Hal ini dibuktikan dengan penyebaran Islam di Lombok sendiri menggunakan media wayang merujuk pada Serat Menak dan Hikayat Amir Hamzah.

Selain sebagai media penyebaran Islam, wayang sasak juga digunakan sebagai media hiburan yang sarat dengan makna-makna simbolis menggambarkan struktur sosial-politik masyarakat Lombok. Misalnya wayang sasak dari salah satu budayawan Lombok, Lalu Nasip.

Maka sudah sewajarnya, kita sebagai penerus untuk menjaga dan merawat kearifan lokal kita, jangan sampai tergerus dengan budaya buruk dari luar negeri yang semakin marak masuk ke negeri kita tercinta, termasuk Lombok. (SS-04)

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense