Re-born pemberian Kredit Usaha Mikro & Kecil, di TUNGGU!!


OPINI,SUARASELAPARANG - Di awal tahun 2004, salah satu bank swasta besar (Bank Danamon Indonesia) mempelopori penyaluran atau pembiayaan usaha mikro & kecil. Penyaluran kredit tsb terus berkembang, bahkan jumlah kantor (unit) mencapai ratus kantor bahkan ribu, dan Outstanding atau portofolio Kredit mencapai Triliunan Rupiah. Langkah ini diikuti oleh beberapa bank swasta besar lainnya, seperti BTPN, CIMB Niaga, Mayapada, Bank Mega Syariah, dan beberapa anak perusahaan bank Plat Merah (BRI Syariah, dan BNI Syariah) serta beberapa Koperasi Simpan Pinjam lainnya.

Ratusan kantor cabang, dan cabang pembantu dibuka oleh bank bank swasta tsb. Para bankir diera "booming"nya penyaluran kredit mikro pun, "naik daun", bajak membajak" para bankir di segment mikro & kecil ini marak terjadi, mulai dari level ujung tombak (sales atau account officer) hingga level executive (kepala divisi/business head) bahkan direksi. Tentunya, para bankir ini "bergelimang uang". Namun, setelah berjalan sekitar 10 tahun, performance kredit tidaklah bagus, NPL naik, kredit macet tinggi, dan cost of credit (CoC) membengkak, alhasil, rugi, seketika terjadi penutupan kantor yang dibuka.

Apa yang salah dengan penyaluran kredit mikro dan kecil ya?, ada beberapa hal, yakni: 
(1) Terlalu expansive, sehingga keluar dari business & financial model yang telah dibuat, apa itu?, booking credit yang berlebihan, seharusnya pada business & financial model booking per bulan maks atau idealnya Rp 350 juta bulan, namun realisasi mencapai Rp 1 Miliar, bahkan lebih, akibatnya, kualitas kredit diabaikan.
(2) Turn over sumberdaya manusia, karena banyak bank yang mengikuti langkah BDI selaku pioneernya, kebutuhan (demand) bankir di segment micro & small tinggi, terjadilah perpindahan (bajak membajak) bankir yang begitu tinggi. Sementara, "pencetakan" atau lahirnya bankir baru tidaklah secepat kebutuhan, akibatnya, kualitas bankir nya dari waktu ke waktu "semakin rendah", 
(3) kinerja yang baik atau cemerlang pada 3-5 tahun I, membuat para pengambil keputusan, terus mem push "mesin booking credit", akibatnya beberapa prinsip ke hati hatian, seperti penerapan four eyes principles di "longgarkan". 

Seiring dengan "surut atau meredup" nya kinerja bank bank dalam penyaluran kredit pada usaha mikro dan kecil, disisi lain, para "pemain baru" melalui technology (fintech) bermunculan, bahkan "gemerlap" nya melebihi era ke emasan yang dilakukan oleh bank yang saya sebutkan pada tulisan ini. Hal ini terjadi karena "demand" kredit di segment yang berjumlah 70 juta pengusaha memang tinggi. Selain itu, yield atau imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan segment corporate dan commercial, juga sebagai daya tarik investor masuk ke segment mikro & kecil.

Melihat pertumbuhan penyaluran kredit melalui channel fintech yang tinggi, seharusnya, cara konvensional jauh lebih secure. Salah satu yang bisa dan sangat potensial untuk menggarap segmentasi ini adalah Bank BUMD, saya mengibaratkan seandainya Bank NTB Syariah yang notabene adalah bank milik pemerintah daerah NTB mau focus untuk memberdayakan pengusaha UMKM dengan focus kepada pnyaluran pembiayaan/kredit ke segmen ini, saya yakin akan mengurangi jumlah pengangguran dan kita tidak akan lagi mendengar pengusaha susah akses permodalan, tapi apa yang terjadi dengan kondisi Bank NTB Syariah saat ini, portofolio kebanyakan untuk pembiayaan dengan segmentasi consumer loan, yang artinya adalah Bank NTB Syariah terlalu exclusive hingga hanya bisa di akses oleh orang berpenghasilan tetap saja (fix income).

Re-born pemberian kredit oleh bank HARUS terjadi dan di TUNGGU, tentunya dengan beberapa catatan perbaikan, yakni (i) taat pada risk management, (ii) patuh pada business & financial model yang telah di gariskan, (iii) memiliki HCM yang terencana dengan baik, dan memiliki komitmen melakukan training yg berkelanjutan (sustainable), hindari bajak membajak, (iv) pertumbuhan kredit yang sehat, tidak hanya mengejar keuntungan (profit) berlebihan hanya untuk jangka waktu pendek, atau jangan hanya mengejar BEP & Payback dalam waktu singkat, mengabaikan kualitas kredit jangka panjang.

Redaksi SS
Previous Post Next Post

Adsense