Usaha Lain Gulung Tikar, Pengrajin Tahu Tempe justru Semakin Eksis di Musim Corona


Mataram, Suaraselaparang, Lagi-lagi Covid-19 menjadi penghambat laju perekonomian masyarakat, terlebih dibidang usaha. Namun hal tersebut tak berpengaruh pada pelaku Usaha pembuatan dan penjualan tahu tempe yang justru tetap Eksis ditengah merebaknya covid-19, jika dibandingkan  usaha-usaha lainnya yang kini masih terlihat mati suri.Permintaan tahu dan tempe justru melonjak naik.

Baik permintaan di dalam daerah, maupun di luar NTB. Tidak ada produsen tahu tempe di Kekalik, Kota Mataram yang gulung tikar, kata Ketua Koperasi Pengrajin Tahu Tempe Kekalik Jaya, H. Muh. Hasbah, Rabu (22/07)

Justru karena kuatnya usaha turun temurun ini yang membuatnya mampu bertahan dalam segala tantangan ekonomi sekalipun, bahkan ada 12 orang pengrajin yang akan berangkat haji. Rencananya tahun 2020 ini, namun tertunda karena pandemi Covid-19.

"Rata-rata penjualan normal, naiknya rata-rata 10 persen. Ada yang produksinya bahkan naik sampai 50 persen karena tingginya permintaan, "tutur Hasbah

"Pun dengan Pembelian dadakan juga tidak bisa dilayani. Karena Harus dipesan tiga hari sebelum dibutuhkan. Baru bisa dipenuhi, "kata H. Hasbah.

Untuk kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak-anak, para perajin menurutnya tak perlu terlalu keras memikirkannya.

Bahkan belakangan terjadi kenaikan permintaan produksi dimana yang tadinya setiap hari hanya 100 Kg menjadi 150 Kg /Hari.

Kenaikan permintaan, diduga karena persoalan daya beli masyarakat. Tahu tempe adalah menu untuk masyarakat dari berbagai lapisan.Pasar utamanya adalah pasar tradisional.

Sejauh ini, perajin belum menjangkau swalayan. Namun permintaan tetap tinggi. Selain permintaan lokal, dari luar daerah juga cukup intens pemesanannya. Dari Jakarta misalnya. Karena tak butuh waktu lama untuk pengiriman dari Lombok, hanya hitungan satu sampai dua jam.

Dari luar daerah itu banyak yang minta. Dari Jakarta paling banyak sekali. setelah corona ini naik permintaannya. Mungkin karena tidak bisa datang ke Lombok, imbuhnya.

Apalagi, tahu tempe hasil produksi pengrajin di Kota Mataram sudah cukup dikenal namanya karena kualitas dan citarasa yang berbeda dengan tahu-tahu lainnya.

H. Hasbah mengatakan, harga tahu tempe sangat terjangkau bagi semua orang. Meski permintaannya tinggi, harga tidak serta merta disesuaikan (dinaikkan) oleh perajin, atau penjual.

Kendati covid-19 menyerang, H. Hasbah mengaku tidak kesulitan mendapatkan bahan baku, kedelai impor. Pengrajin menerima pesanan di tempat, harga perkuintalnya Rp820.000. Saat ini ada 113 pengrajin tempe dan 87 pengrajin tahu yang bertahan di Kekalik, " Tutupnya

(SS-04)
Previous Post Next Post

Adsense