Musim Kemarau Sudah Tiba, Tapi Sayang 300 Mata Air di NTB Justru Menghilang

Mataram, Suaraselaparang - Kasus Perusakan lingkungan di NTB semakin menjadi, khususnya hutan. Oleh tindakan tersebut membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. "Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air, "ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Senin (03/08/2020).

Madani menjelaskan lebih lanjut,  jika mata air yang hilang tersebut dalam arti debit airnya jauh berkurang, hanya sedikit yang keluar. Tapi sebagian lagi airnya sudah tidak ada. "Yang hilang sama sekali ini banyak di luar kawasan hutan, " Terangnya.

Kondisi itu terjadi salah satunya akibat pembalakan liar dan pembukaan hutan untuk tanaman semusim. Kondisi itu membuat sumber-sumber air berkurang. "Kalau tutupan lahan bagus, mata air akan banyak, "jelasnya.
 
Sejauh ini, Dinas LHK NTB sudah mencatat, perambahan hutan secara masif terjadi sejak reformasi 1998. Terutama tahun 1999 kasus pembalakan liar meningkat signifikan. 

"Sejak reformasi terus sampai sekarang dengan program tanaman semusim tambah habis lagi, " katanya.

Dampaknya kini sangat terasa, ketika musim kemarau daerah-daerah di dekat kawasan hutan justru mengalami kekeringan. Harusnya ketika musim kemarau, persediaan sumber air masih bisa mengurangi dampak kekeringan.

Untuk menyelamatkan hutan dan mata air itu, Dinas LHK melakukan beberapa upaya, salah satunya reboisasi. Namun upaya itu tidak akan cepat menyelamatkan lahan kritis, butuh waktu panjang.

"Pekerjaan yang paling berat adalah penyadaran dan mengubah mindset masyarakat, "katanya.

Hampir senada, Kepala Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan, Dinas LHK NTB Ahmad Fathoni menyebut, selain illegal logging berkurangnya mata air juga disebabkan pertanian anorganik, seperti jagung dan sejenisnya. Juga karena aktivtas tambang, sampah, BAB manusia, dan limbah rumah tangga yang membuat mata air tercemar. "Solusinya bebaskan tanahnya, pagari dan hijaukan daerah resapan, "ujarnya.

Dampak kekeringan yang dirasakan warga saat ini tidak lepas dari kerusakan hutan. Terutama di daerah Sumbawa, Dompu, dan Bima. Pembalakan liar di daerah tersebut cukup parah. Tidak heran, Dompu merupakan salah satu daerah berstatus awas bencana kekeringan di Indonesia.

Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi menyebut, hingga saat ini tujuh daerah di NTB sudah berstatus siaga darurat kekeringan. Antara lain Kabupaten Bima, Kota Bima, Dompu, Sumbawa, Sumbawa Barat, Lombok Timur, dan Lombok Barat. " Sedangkan Lombok Tengah dan Lombok Utara segera menyusul menduduki status siaga darurat tersebut, " katanya


(SS-04)

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense