Semakin Menggila, Corona Tidak Mengenal Batas Ruang dan Waktu dalam Penularannya



Mataram, Suaraselaparang, Penularan virus Korona di NTB kian tidak terkendali. Transmisi lokal kian merajalela. Hampir tidak ada ruang yang bebas dari penularan virus. Bahkan rumah pun mulai tidak aman. Terutama bagi mereka yang membuka usaha di rumah.

"Kami temukan kasus, didekat rumah ada salah satu warga punya usaha cukup laris,  banyak pembeli datang tapi dampaknya satu keluarga positif Covid-19, "kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, dalam keterangan pers tim gugus tugas Covid-19 NTB, Minggu (02/08/2020).

Karena itu, ia meminta warga yang memiliki usaha di rumah untuk lebih berhati-hati lagi. Sebab, membuka usaha di rumah juga punya risiko tertular. Meski tetap di rumah, tapi banyak orang yang tidak diketahui riwayat kesehatannya datang ke rumah. Itulah yang membuat potensi penularan menjadi tinggi.

Satu keluarga pemilik usaha rumahan, lanjut Eka, kini masih mendapat perawatan. Untungnya mereka sudah menunjukkan perbaikan.

"Ada yang isolasi mandiri dan ada yang dirawat di rumah sakit, " katanya.

Belajar dari kasus itu, warga yang punya usaha rumahan disarankan menjauhkan orang berisiko tinggi kontak dengan orang luar. "Sehingga risiko tertular bisa diminimalkan, "katanya.

Demikian pula dengan warga yang bekerja di perkantoran. "Harus dipastikan ruang tempat kerja punya sirkulasi udara bagus," imbuhnya.

Hingga kemarin, jumlah kasus Covid-19 di NTB tembus 2.150 orang. Terdiri dari pasien sembuh 1.325 orang, 119 orang meninggal dunia, dan 706 orang masih dalam perawatan.

Tambahan kasus baru pun masih tinggi. Jika hari Sabtu lalu 50 orang, Ahad kemarin terdampat 35 kasus baru dengan dua orang meninggal asal Lombok Barat.

Satu pasien meninggal S, laki-laki 69 tahun, penduduk Desa Duman, Kecamatan Lingsar. Ia meninggal tanpa penyakit penyerta atau komorbid. Kemudian pasien H, perempuan, usia 44 tahun, penduduk Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, ia memiliki penyakit komorbid berupa diabetes.

"Pasien meninggal dunia di NTB sudah 5,5 persen dari semua kasus di NTB, *katanya.

Dengan kondisi saat ini, ia mengimbau semua pihak mau patuh pada protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus. Sebab, virus Korona semakin banyak memakan korban jiwa tanpa pandang bulu.

"Banyak tokoh kita kini hilang karena Covid," katanya.

Kasus terbaru, Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) H Lalu Mudjitahid meninggal karena Covid-19. Sebelumnya Lalu Mariyun, hakim senior asal NTB juga meninggal karena Covid-19. Kasus-kasus itu menurutnya harus membuat warga sadar dengan bahaya yang tengah dihadapi. Tidak ada yang kebal dari virus tersebut.

Memang banyak orang positif Covid-19 tanpa gejala ditemukan. Mereka memang tidak sakit dan menganggap enteng penyakit itu. "Tapi mereka menulari orang tua kita, anak-anak kita yang berisiko tinggi," ujarnya.

Direktur RSUD NTB dr H Lalu Hamzi Fikri menyebut, tidak hanya perkantoran, klaster keluarga kini perlu mendapat perhatian serius. Artinya penularan dalam satu keluarga sudah semakin banyak ditemukan.

"Saya pikir ini perlu menjadi catatan serius kita bersama, "ujarnya.

(SS-04)

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense