Serangan Corona Tak Mempan Bagi Petani, Kadis Pertanian: Petani Kita Tetap Happy Dikala Sektor Lain Terdampak


Mataram, suaraselaparang, Dunia saat ini sedang menghadapi pandemi covid-19. Pandemi ini tidak semata-mata berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga sosial ekonomi masyarakat. Di sektor pertanian, FAO sudah memperingatkan potensi krisis pangan global. 

Rantai pasokan pangan dunia juga terancam di tengah pemberlakuan karantina wilayah, pembatasan sosial, dan larangan perjalanan.Kebijakan tiap-tiap negara dalam mencegah penyebaran covid-19 turut berimplikasi pada kebijakan pangan maupun kemampuan produksi mereka. Realitas itu menunjukkan, ketahanan pangan sama pentingnya dengan kesehatan masyarakat.

Jika dokter dan tenaga medis ialah tentara dalam upaya melawan penyebaran covid-19, begitu pun para petani, penyuluh, dan insan pertanian lainnya. Pertahanan yang penting dalam melawan covid-19 ialah ketahanan pangan. Dari sisi protokol kesehatan, pemerintah sudah menyiapkan strategi khusus untuk mencegah penyebaran virus melalui pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Strategi itu hanya akan efektif sepanjang pangan pokok tersedia untuk rakyat. 

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Ir.Husnul Fauzi, M.Si mengatakan, secara umum dampak pertanian akibat pandemi covid- 19 belum ada data validnya. "Namun hasil pantauan kami, para petani tetap happy dalam kegiatan tanam-menanam walapun di tengah pandemi covid-19, mereka menganggap jika dengan ber panas-panasan itu justru bisa meningkatkan imunitas, jadi sulit kena corona, " tuturnya saat dikonfirmasi suaraselaparang.com, Kamis (27/08/2020)

Tidak bisa kita pun kiri, jika di sektor pertanian juga pasti akan menjadi terdampak dari covid-19 ini, tapi secara angka kami tidak bisa memastikan berapa jumlah penurunan ataupun peningkatannya saat ini, karena itu sudah ranah BPS. "Lanjutnya.

Pandemi melanda, saatnya semua elemen bersinergi melawan. Sehingga kterlibatan Dinas pertanian dalam dalam mendukung program pemerintah adalah dengan penyaluran benih dan alat tanam kepada komuniti padi jagung (dalam bentuk kelompok) bukan perorangan.

Dengan adanya covid gubernur geliatkan program mandiri melalui beberapa program, salah satunya adalah program  JPS (Jaring pengaman sosial). Program yang mampu membantu masyarakat kita dengan menghidupkan UMKM dan IKM lokal.

Dari kementrian pertanian juga menggelontorkan KUR (Kredit usha rakyat), untuk menyelamatkan pertanian dengan cara membantu modal petani tanpa harus memberatkan mereka.

Di Lotim kami berkoordinasi dengan salah satu koprasi hadir dengan mendirikan PT. DNA (Datu Nusa Agribisnis). Yang di mana PT tersebut untuk menyelamatkan sektor jagung dan lahan jagung. Menghasilkan jagung yang rendah aplatoksin (rendah zat racun) atau yang disebut jagubg hibrida, " Ungkapnya

Bersamaan, Sekretaris Dinas pertanian dan perkebunan (Distanbun) NTB, Ir. H. Prihatin Haryono juga memberikan komentar, bawah semua sektor kehidupan merasakan dampak dari pandemi covid-19. Tapi kita harus akui bersama jika sejauh ini ini yang menjadi di terdampak yang cukup parah adalah sektor pariwisata.

Hal tersebut terjadi karena Kita harus mengikuti Lockdown. Jadi, mau enggak mau semua pintu keluar masuk ditutup, sehingga sektor pariwisata yang tadinya cukup maju menjadi m terdampak yang cukup parah oleh Corona. Karena dengan ditutupnya beberapa pintu keluar masuk menuju NTB, pengunjung atau para peminat pariwisata menjadi minim

"Tapi alhmdulilah untuk pertanian justru makin geliat dan stabil, karena ketika semua Lockdown akibat corona. Para petani kita di NTB justru memanfaatkan Lockdown dengan bercocok tanam di sawah. Jadi bukan sekedar diam di rumah saja, namun tingkatkan produktivitas di sawah saja, " Cetusnya

Saat dikonfirmasi bersamaan, Fungsional Perencana muda Dinas pertanian dan perkebunan (Distanbun) NTB, Mulyadi Hatimultazam,S.P. M.Si. juga menjelaskan jika masing-masing kabupaten/kota ada penangkar untuk benih. Hasil penangkaran benih tersebut dibagikan (disuplay) ke seluruh petani di masing-masing kabupaten/kota dengan menyediakan CPCL (Calon Petani Calon Lokas). 

Ini merupakan salah satu langkah Dinas Pertanian untuk menyelamatkan para petani. Khususnya petani padi, karena memang saat ini banyak hasil suplay dari Dinas pertanian berupa benih padi untuk para petani kita, "ungkapnya

Tidak hanya bibit, alhmdulilah dinas pertanian bersama UMKM dan IKM lokal bersinergi bersama untuk memberdayakan industrialisasi lokal dan hasilnya juga cukup memuaskan.

"Kita sudah punya mesin jagung sendiri, mesin padi, mesin pengolah kelapa sendiri dan banyak mesin lainnya. Itu semua hasil lokal atas sinergi Distanbun dan pemprov yang digeliatkan untuk memberdayakan UMKM dan IKM lokal, " Akunya

Tak hanya itu, NTB juga sudah mempunyai manufaktur sendiri, jadi tidak bergantung dengan manufaktur luar. Harapannya ya supaya bisa bersaing dengan produk luar negeri. 

Karena sudah jelas sekali tracking nya, dengan banyaknya trobosan baru di sektor pertanian. Hal itu juga mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Karena bisa diproduksi di dalam daerah sendiri. "Tutupnya

(SS-04)

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense