Unjuk Rasa Tolak Kerjasama NTB-Israel, Massa Aksi & Wartawan Jadi Korban Tindakan Represif Aparat

Mataram, suaraselaparang - Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa yang menamakan dirinya, Aliansi  Mahasiswa Peduli Palestina di Kantor Gubernur NTB, Senin (24/08/2020) berujung ricuh. Bentrokan massa aksi dan aparat pun tak terhindarkan. 

Tak hanya itu, sikap represif oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi NTB yang menghalang-halangi tugas wartawan ketika hendak mengambil gambar juga menjadi sorotan. Pasalnya salah seorang wartawan dari radarmandalika.id, Muh. Arif menjadi korban pembentakan.

Arif juga sempat didorong oknum Satpol PP.  Bahkan alat perekamanya berupa handphone pun ditepis. Oknum anggota Satpol PP itu mengira dirinya direkam oleh wartawan Pemprov NTB tersebut.

"Saya sudah bilang dan jelaskan saya dari wartawan Pemprov NTB, tetap aja didorong, oknum itu kemudian membentak saya, sambil berkata ngapain foto-foto saya katanya," cerita Arif.

Arif juga mengatakan, kejadian itu terjadi saat ia  sudah di dalam gerbang halaman depan Kantor Gubernur NTB. Ia sendiri fokus mengambil gambar video penyeretan salah satu masa aksi oleh anggota Satpol PP yang kemudian dibawa keluar.  Di tempat itu, Arif tidak sendiri ada staf Humas Pemrov NTB, Edi dan juga Faisal yang merupakan wartawan radarlombok.co.id. Ia sangat menyayangkan sikap oknum Satpol PP tiba-tiba menghampirinya.

"Dia (Pol PP) datang dan bilang kenapa ambil muka saya, HP saya ditepis pakai tangannya dan saya didorong,  dia bilang kenapa ambil muka saya, padahal saya sedang fokus mengambil gambar ke arah mahasiswa yang diseret itu. Kemudian baju saya juga ditarik-tarik," tambah Arif.

Lebih lanjut Arif menilai, jika memang Satpol PP ingin mengamankan demonstrasi, harusnya mereka berfokus kepada massa aksi tanpa intervensi, apalagi sampai terkesan menghalang-halangi kinerja jurnalistik. 

Beruntung handphonenya yang ditepis oknum Satpol PP itu tidak rusak, ia hanya merasa beberapa bagian tubuhnya sakit keseleo akibat didorong oleh oknum anggota Satpol PP tersebut.

"Saya sudah pakai ID Card pers, saya juga nunjukin ID Card tadi. Dia minta hapus foto-foto saya, " kata Arif.

"Hp saya enggak rusak, cuma dada saya sakit tadi akibat didorong," ungkapnya.

Melihat perlakuan oknum Satpol PP yang diterima Arif, salah seorang wartawan dari suaraselaparang.com, Ade Putra berusaha menolong Arif dan mencegat oknum Satpol PP melakukan tindakan berbahaya.

Ade pun berkali-kali menjelaskan kepada oknum Satpol PP. "Arif itu teman saya dari media, jadi mohon jangan melakukan tindakan kekerasan apalagi sampai diseret dan didorong begitu," sesal Ade.

Namun nihil, tindakannya itu justru menuai teguran yang cukup keras dari pihak kepolisian, tangan Ade ditarik dan ia pun diseret hingga ke jalan raya.

Ade sempat menjelaskan bahwa ia bukan peserta aksi, melainkan wartawan. "Saya bukan peserta aksi, saya dan Arif wartawan, kami baik-baik saja meliput aksi di sini dari tadi. Tidak pernah melakukan tindakan anarkis sedikitpun," protesnya.

Tanpa peduli, sejumlah oknum aparat kepolisian tetap terus mendorong Ade. Beberapa oknum polisi bahkan menyuruh Ade diam dan tidak perlu banyak bicara.

Ade kemudian disuruh pergi, dan tidak ikut membuat keonaran. Oknum aparat kepolisian terus mendorong Ade layaknya peserta aksi unjuk rasa.

Sementara itu Kepala Satpol PP NTB, Tri Budi Prayitno yang dikonfirmasi terpisah mengaku belum mendapatkan informasi tersebut. Pria yang akrab disapa Yiyit ini beralasan, tindakan represif yang dilakukan anggotanya itu akibat salah mengira Arif dan Ade adalah peserta aksi unjuk rasa tersebut.

"Coba tanya temannya itu apakah dia pakai Id Card atau tidak," kata Yiyit.

Terkait aksi mendorong wartawan dan menarik-narik baju saat mengambil gambar, Yiyit menuturkan masalah ini harus dilihat dulu kondisinya seperti apa di lapangan.

Yiyit pun menceritakan kronologis aksi unjuk rasa tersebut. Sebelum massa aksi bergerak ke Kantor Gubernur NTB, massa aksi melakukan orasi di Dinas Perdagangan NTB yang menuntut Kadis Perdagangan dicopot dari jabatannya dan meminta agar NTB menghentikan ekspor kerajinan keranjang buah ke Israel.

"Mereka dikasih penjelasan terkait dengan ekpsor ke Israel, tak puas lalu mereka demonstrasi ke Kantor Gubernur," jelasnya.

Yiyit juga menyebut terkait dengan unjuk rasa itu, harus dilakukan sesuai prosudur. Biasanya ketika ingin menyampaikan aspirasi, harusada  perwakilan. 

Pihak Dinas Perdagangan NTB awalnya mau menerima aksi unjuk rasa. Bahkan salah seorang Kabag Dinas Perdagangan NTB siap menerima mereka.

Namun massa aksi menolak. Mereka juga menolak Karo Humas Dinas Perdagangan NTB. Mereka hanya mau ditemui oleh Gubernur NTB langsung.

"Saat negosiasi sedang berlangsung, seorang pendemo loncat gerbang masuk ke dalam, lalu anggota Satpol PP berupaya melakukan tindakan keamanan sehingga salah seorang pendemo itu dikeluarkan," kata Yiyit.

Tidak hanya itu, Yiyit pun bercerita bahwa ada salah satu dari masa aksi yang kedapatan melempari foto Gubernur NTB dan Wakil Gubernur NTB dengan tomat sampai ada narasi tidak etis dalam menyebut pribadi Gubernur NTB. Mereka juga kedapatan merobek baliho. 

Yiyit berkilah, saat dihentikan itulah, Satpol PP melakukan tindakan tegas untuk mengamankan pelaku. Namun, dari potongan rekaman video menunjukkan menyudukutkan Pol PP.

"Seperti itulah kondisinya di lapangan. Tidak bisa kita hitam putihkan (mana salah mana benar)," terang Yiyit. 

(SS-04)

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense