Tak Hanya ISMAKES, Sejumlah Aktivis Pun Mengecam Paslon Walikota yang Berkerumun Tak Perhatikan Protokol Covid- 19

Mataram, suaraselaparang.com - Menjelang Pilkada serentak di NTB, situasi semakin memanas dengan sejumlah persoalan yang hadir di Tengah pandemi Covid- 19. Pasalnya dengan kondisi mecengkam di tengah pandemi Covid-19 begini sejumlah masyarakat dan paslon walikota Mataram justru mengabaikan  protokol kesehatan yang ada. 

Bahkan sejumlah pendukung dan paslon walikota berkerumunan tanpa memperhatikan protokol Covid-19 saat mendaftarkan diri ke KPUD Kota Mataram beberapa hari lalu.

Padahal Beberapa waktu yang lalu pihak Satgas Covid- 19 Provinsi NTB sudah resmi mengeluarkan surat edaran Perda Tentang Penularan COVID-19 dan melarang Masyarakat untuk melakukan kegiatan yg bisa menimbulkan kerumunan orang banyak, apabila melanggar maka akan dikenakan sejumlah sanksi.  Bahkan Perda tersebut sedang gencar-gencarnya disosialisasikan kepada masyarakat dan terhitung H-6 perda tersebut akan resmi diterapkan di NTB.

Nihil, justru kondisi tersebut banyak sekali menimbulkan pertanyaan di benak kalangan Masyarakat terlebih dikalangan aktivis kemahasiswaan. Pasalnya di sektor pendidikan tidak diperbolehkan untuk melakukan kuliah tatap muka dan melakukan kegiatan yang sekiranya akan menimbulkan kerumunan massa semisal Wisuda Ofline dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kampus.

"lalu apa bedanya dengan Pesta kempanye dan pendaftaran sejumlah paslon walikota beberapa hari lalu?  ketika kempanye politik orang-orang berkumpul, desak-desakan, bersorak-sorak gembira walaupun menggunakan masker namun tetap melanggar protokol covid (social Distancing), lalu bagaimana dengan mahasiswa yang ingin kuliah tatap muka dan melakukan kegiatan wisuda Ofline? " Sesal Korwil BEM NTB Raya Irfan Kilat saat dikonfirmasi suaraselaparang.com, Selasa, (08/09/2020).

Ia mengatakan jika Mahasiswa akan terhitung jauh lebih tertib ketika berada di dalam ruangan kampus dikarenakan bisa jaga jarak, semisalanya diruangan kelas bisa saja mengatur posisi bangku kelas dengan jarak 1 meter, begitupun dengan wisuda Ofline bisa saja menggunakan ruangan terbuka dan menempatkan kursi dangan  jarak protokol covid. Sebelum masuk dalam ruang kelas pun bisa di tertibkan dengan portokol Covid-19.

"Saya rasa Mahasiswa akan lebih nurut apabila diarahkan seperti itu dibandingkan sejumlah paslon walikota, " Ujarnya.

Irfan menilai jika Pendidikan bagi Generasi Bangsa sangat penting,  karena untuk proses Pembelajaran pengembangan diri, pemahaman kemajuan zaman, menjadi seorang manusia yang kritis dalam berpikir, dan mewujudkan impian-impianya maupun impian Bangsa ini. Sebagaimana di jelaskan dalam UUD RI No. 20 Tahun 2003. 

"Menurut kami penyakit Covid hanya  bisa dikalahkan dengan pemodal, banyak yang bisa bernegosiasi untuk bisa diberikan izin untuk  berkegiatan yg bisa mengundang kerumunan massa, " Sindirnya 

Lebih lanjut Irfan nama akrabnya mengesankan agar pihak yang berwewenang lebih tegas lagi dalam menerapkan aturan yang ada tanpa harus memandang bulu.

"Jelas kami mengecam situasi ini. Paslon walikota dengan bebasnya berkerumun sedangkan mahasiswa ingin kuliah dan wisuda Ofline tak diperbolehkan, " Sesalnya.

Pihaknya juga berharap agar pandemi ini lekas berlalu sehingga semua sektor bisa pulih kembali, tentu dengan langkah keseriusan semua elemen untuk bersinergi melawan covid-19. 

"Bukan hanya pemerintah masyarakat pun mesti ikut ambil peran. Pun dengan penegasan pihak berwenang, bukan hanya masyarakat kecil saja yang diingatkan tapi semua kalangan harus diberlakukan sama, " Harapnya.

(SS-04)

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense