Ahli IT : Pelaku Dalam Video Tersebut Bisa Jadi Bukan Gisel.

Jakarta, Suara Selaparang - Maraknya pemberitaan dan analisis para pakar IT tentang video porno mirip artis gisel yang beredar di social media, membuat saya prihatin. Keprihatinan timbul akibat semakin sulitnya pekerjaan penyidik untuk mengurai siapa pelaku yang mendistribusikan video dan atau memproduksi video tersebut. Selain itu juga membuat orang tua semakin was was dengan beredarnya video tersebut yang membuat mudah diaksesnya video tidak pantas tersebut oleh para putra putri mereka yang sedang menggunakan HP karena kuliah daring.

Memang dalam kasus beredarnya video tersebut ada beberapa Undang- undang yang dilanggar. yaitu Undang-Undang nomor 11 Tahun 2008 yang diperbaiki dengan UU no. 19 tahun 2016 tentang ITE pasal 27 ayat 1 tentang informasi berbau konten  asusila.  Dan UU no. 44 tahun 2008 tentang Pornografi. 
Beredarnya video  ini, kalau yang disangkakan kepada pelaku  melanggar UU ITE pasal 27 ayat 1, maka tuduhannya meliputi mendistribusikan dan atau  mentranmisikan dan atau membuat mudah diakses video tersebut.   Dan dalam kasus ini remaja berinisial NM sudah diamankan oleh pihak kepolisian. 

Namun jika dalam kasus ini penyidik menyangkakan dengan UU no. 44 tahun 2008 tentang pornografi pasal 4 ayat 1, maka penyidik juga akan mengejar siapa pelaku yang membuat video tersebut, orang yang memasang CCTV seandainya adegan tersebut terekam oleh CCTV portable. 

Dari video yang beredar, saya belum jelas melihat siapa yang merekam adegan tersebut. Selain itu juga belum tahu perangkat Hand Phone atau CCTV portable yang digunakan untuk mengabadikan adegan porno tersebut. Apalagi jika yang disampaikan oleh pakar telematika roy suryo itu benar, bahwa video yang beredar adalah video “Re Take”, yaitu pengambilan ulang dari video aslinya.  

Apa yang selama ini dilakukan penyidik sudah tepat, mereka menyisir dan menangkap pelaku yang menyebarkan video tersebut, diantarnya remaja berinisial NM. Namun, penyidik akan berhati-hati untuk memutuskan siapa pelaku dalam adegan mesum dalam video tersebut dan yang memproduksinya.
Sejauh yang saya tahu, software terbaru untuk mendeteksi kemiripan wajah dalam foto hanya untuk “face recognition”. Aplikasi ini dipergunakan untuk membandingkan antar foto wajah seseorang. Kelemahan aplikasi ini, tidak dapat mengidentifikasi wajah sampai tingkat kesamaan diatas 95 %. 

Hal ini disebabkan karena kondisi wajah dipengaruhi umur, faktor psikologis (kenikmatan atau kesusahan), posisi wajah, lamanya jarak foto yang diindentifikasi dengan foto saat sekarang ini. Perlu diketahui bahwa video ini sepertinya sudah lebih dari satu tahun. Sehingga pengakuan saksi ini memegang peranan sangat penting.

Kalau saksi yang dituduhkan atau yang diduga mirip pelakudalam video tersebut tidak mengakui, penyidik harus kerja ektra keras untuk mengungkap siapa perempuan/wanita dalam video tersebut.

Menurut saya, ada beberapa metode yang bisa dilakukan oleh penyidik untuk mengidentifikasi pelaku dalam adegan tersebut. Pertama, penyidik mencari video atau foto perempuan yang diduga dalam video tersebut. Kemudian, penyidik menganalisis video yang beredar, dan melakukan “frame cutting” yaitu memotong frame yang menunjukkan wajah yang terlihat sempurnya. Sempurnya dimaksud semua unsur wajah kelihatan semua, syukur dapat menunjukkan tanda khusus. 

Lalu penyidik juga mencari video yang diduga pelaku misalnya ditanyakan TV yang dishare di youtube. Dan dilakukan “Frame cutting”  pada posisi sama atau mendekati sama dengan foto hasil “frame cutting” video pertama. Baru dilakukan face recognition, untuk mengetahui tingkat kesamaannya.

Kedua, Penyidik menginvestigasi data dari pelaku NM, dan memintai keterangan video yang di “Re take”nya. NM akan memberikan keterangan dimana video itu direkam, sumber video tersebut berada dan kapan waktu merekam dan kemana dia memposting video “Re take” tersebut. Informasi tentang dimana video direkam, kapan membuat video tersebut dan kemana pelaku memposting itu sudah tersimpan dalam video tersebut. Tapi untuk menemukan barang bukti asal video tersebut perlu kerja ekstra keras.

Secara teknis face recorganition tidak mampu memperoleh kecocokan sampai mendekati 95 %, artinya aplikasi tersebut tidak dapat menentukan pasti siapa perempuan dan laki-laki yang ada dalam video porno tersebut. Dengan demikian, butuh keterangan saksi lain misalnya orang terdekat yang mengetahui lingkungan kamar tempat dilakukan adegan mesum tersebut. Saksi yang mengetahui kamar tersebut dapat menambah keyakinan penyidik dan alat bukti dalam menentukan siapa pelaku sebenarnya. Kasus ini akan menjadi kabur, jika yang diduga mirip tidak mengakui dan tidak ada saksi yang mengetahui konsisi kamar atau tanda lain yang ada dalam video tersebut.

Dari pengalaman saya sebagai ahli forensic dan saksi ahli dipengadilan, berdasarkan alat bukti yang ada NM dapat disangkakan dengan UU ITE pasal 27 ayat 1 tentang informasi asusila dan UU Pornografi pasal 4 ayat 1. Sedangkan pelaku dalam yang membuat video dalam media elektronik tersebut yang dapat dijerat dengan UU Pornografi pasal 4 ayat 1. Namun yang perlu dicatat,  pelaku dalam video tersebut dapat dijerat  dengan UU  Purnografi , jika ada 2 alat bukti yang cukup. Maka uji digital forensic terhadap video ini menjadi dangat penting, untuk mengetahui video tersebut direkayasa atau tidak.  

Saya yakin penyidik professional dan memiliki alat yang cukup untuk mengidentifikasi semuanya. Yang penting NM dan temannya sudah tertangkap. Untuk pelaku pria dan wanita dalam video tersebut, memang harus dikuatkan dengan berbagai alat bukti, sebab metode deteksi kemiripan wajah tidak dapat memiliki kemiripan diatas 95 %. Oleh karenanya jangan ada demo ke kepolisian untuk segera menahan yang diduga mirip.  Dan masyarakat juga jangan menuduh seseorang kalau belum terbukti dengan alat bukti yang cukup. Semoga bermanfaat.

Dr. Solichul Huda,M.Kom
Ahli IT atau digital forensi
Saksi ahli Digital Forensik
Peneliti Digital Forensik Udinus Semarang.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Adsense

Promo