Filosofi Pisang Goreng, Belajar Berfikir Cerdas.

Oleh : Agus Dedi Putrawan

Suara Selaparang - Jika di dapur mu terdapat bahan berupa tepung, pisang, air secukupnya dan minyak goreng,  maka apa yang bisa kamu buat.? Hampir pasti bagi sebagian besar orang termasuk kamu (mungkin) akan menjawab pisang goreng. 

Ada yang menggunakan metode tebakan saja dan sebagian besar menggunakan pengalaman untuk memprediksi bahan-bahan tersebut mau dijadikan apa.

Bagi yang memiliki pengalaman (empiris) melihat dan sering mengkonsumsi jajanan (gorengan) maka pikiran mereka pasti mengadres pisang goreng dan memutuskan untuk mengatakan pisang goreng dengan sangat yakin dan fasih.

Mari kita sepakati saja bahwa bahan-bahan di atas akan kita buat menjadi pisang goreng. 

Namun meskipun dengan bahan yang cukup di atas, pisang goreng tidak akan pernah bisa terwujud jika tidak ada alat yang memadai semisal kompor dan penggorengan (orang kampung biasa menyebutnya sigon). 

Posisi alat sangatlah penting guna mengolah tepung, air, pisang dan minyak menjadi pisang goreng. 

Namun meskipun dengan keberadaan bahan dan alat yang lengkap tidak bisa mewujudkan pisang goreng kalau tidak ada kehendak dari manusia untuk menggerakkan alat dan mengolah bahan tersebut. 

Bayangkan jika alat dan bahan itu kita diamkan selama satu tahun lamanya maka jangankan berubah menjadi pisang goreng sekedar bergerak dari posisinya saja mereka tidak mampu.

Apa yang dapat kita pelajari dari uraian di atas?

Bahwa ilustrasi bahan mengumpamakan potensi yang kita miliki, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Kenapa kita yakin bahan-bahan di atas dapat kita prediksi bisa menjadi sesuatu, karena kita pernah memiliki keyakinan dan pengalaman tentang sesuatu. 

Mengidentifikasi potensi yang kamu miliki adalah langkah awal untuk bagaimana kamu membentuk dirimu menjadi apa.

Sebagaimana proses tidak akan mengkhianati hasil maka potensi dan aktivitas mu hari ini  tidak akan mengkhianati  kamu jadi apa di masa depan. 

Misalkan cita-cita mu menjadi seorang koki profesional, namun ketika ditanya "apa aktivitas mu hari-hari ini, lantas kamu menjawab bermain layang-layang". Terjadi inkonsistensi mengharapkan 1+1= 10. 

Ilustrasi alat dalam konteks pisang goreng di atas adalah momentum. Sangat percuma kamu memiliki potensi tapi wadah dan waktu tidak pernah ada. 

Contoh kamu seorang calon kepala desa. Memiliki jaringan dan pengaruh serta modal materi yang kuat namun semua itu tidak berlaku jika bukan momen Pilkades. Jadi potensi saja butuh timing-nya.

Kemudian meskipun kamu memiliki potensi dan waktu yang tepat namun kamu sendiri tidak menggerakkan dirimu untuk bertindak maka sampai kapanpun potensi mu itu akan sia-sia. 

Mari kita identifikasi potensi kita, tunggu timingnya dan sambutlah momentum itu dengan gerakan.


Semoga bermanfaat dan Menginspirasi

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Adsense

Promo