Orang-orang Kecil Yang Membantu Melengkapi Pengusulan Pahlawan Nasional.

(Oleh :  Fathul Rakhman)

Sebenarnya saya malas menulis cerita ini. Apalagi berdebat. Tidak ada gunanya. Hanya saja seorang teman mengirimkan pesan, sebuah poster yang menurut saya tidak mencerminkan sikap seorang santri.

Jadi ceritanya setelah Maulana syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menjadi Pahlawan Nasional banyak muncul pihak-pihak, orang-orang yang mengaku ikut berkontribusi dalam pengusulan. Tentu saja semua bisa mengaku . Sekecil apa pun jasa. Barangkali jika tidak ada peran kecil itu, proses itu akan terhambat. Sama seperti sebuah motor mewah tapi businya mati, hanya busi, maka motor itu tidak bisa berfungsi dengan baik. 

Saya mulai ikut-ikutan - pada tahun 2014. Pak Dr. Haji Nuriadi Sayip sangat membantu dengan karya beliau yang menafsirkan wasiat renungan masa. Ada juga Dr. Salman, Dr. Saipul Hamdi, dan hanya Achieve Ikroman yang bukan doktor saat itu. Seminar itu untuk membantu merekonstruksi berbagai peristiwa, untuk urusan dokumen.

Oh iya, ketika itu saya di beritahu memang pernah ada dokumen pengusulan. Hanya dokumen tersebut masih banyak kekurangan.

Ketika saya diajak untuk membantu. Saya tahu jika pengusulan Pahlawan itu sangat administratif. Jadi, walaupun mungkin cerita kepahlawanan sudah ditahu, tapi jika tidak ada bukti, tidak ada dokumen pendukung bagaimana meyakinkan orang. Bagaimana meyakinkan orang bukan NW, yg mungkin tidak pernah sama sekali belajar tentang NW, yakin bahwa guru besar kami itu sangat berjasa. 

Maka mulailah merombak berbagai naskah pengusulan dan jika sampai tiga kali mengusulkan masih sama dokumennya, sulit rasanya mengusulkan kembali. Oleh sebab itu, tim harus benar-benar teliti. Hati-hati. Mungkin karena tahu bahwa saya seorang wartawan makanya diminta untuk bagian membaca.

Foto yang saya posting ini adalah foto tahun 2017. Detik-detik akhir penyempurnaan dokumen. Jadi proses saya mulai ikut hampir 4 tahun.

Tentu saja banyak tokoh kita, para guru kami, para akademisi, para tuan guru, politisi, peneliti, pemerintah, LSM, para abituren yang membantu dalam proses itu. Saya tidak hafal nama-nama mereka. wajahnya pun masih ada sebagian yang saya ingat. Sebagian lagi pernah saya foto. 

Saya hanya ingin berkisah tentang orang-orang kecil yang membantu dalam proses itu.

Muhammad Safwan dan Pak Umar

Si Radja Tahu. Dalam proses memeriksa berbagai dokumen, makalah, berita, testimoni ada satu perjalanan hidup Maulana syekh - yang menurut masukan para ahli - harus diperjelas. Apakah benar Maulana Syaikh itu diutus oleh NIT untuk berangkat haji ? Menjadi delegasi NIT.

Buku-buku yang ditulis oleh peneliti dan sebagian abituren meyakini itu. Padahal, masuk sebagai gerbong NIT itu bisa jadi batu sandungan. Dari seluruh buku, makalah yang ditulis semua saling mengutip. Si A mengutip B, B mengutip C, C mengutip D, dan sebagainya dan semuanya itu berputar-putar tidak jelas darimana sumbernya. Mungkin kalau zaman sekarang bisa dibilang hoax.

Karena, sudah terlanjur banyak ditulis dan diyakini tentu susah juga untuk membantah, mencarinya bukti bahwa Maulana Syaikh bukan utusan NIT. Memang benar saat itu beliau berangkat haji,saat Sunda Kecil ini bagian NIT  tapi belum tentu utusan NIT.

Beberapa tuan guru, ada yang sepuh, murid langsung Maulana Syaikh kami tanya. Ya mirip seperti gaya wartawan. Beliau sampai menitikkan air mata ketika menceritakan Maulana Syaikh. Sempat bersitegang karena kisah-kisah itu tidak akan meyakinkan penilai. 

Buku sejarah haji nusantara kami bagi untuk dibaca. Akhirnya, ketemu beberapa referensi dan perspektif (saya lupa nama sejarawan dari Jawa yang memberikan ide cara membaca sebuah peristiwa).

Sebagai kesimpulannya maka Pak Safwan dikirim ke Jakarta. Kantor Arsip Nasional bersama pak ustadz Dr. Qudus. Membawa beberapa catatan penting. Berhari-hari di sana. Mereka cukup stress. Mencari dokumen yang dicari ibarat mencari jarum dalam jerami. Keduanya tidak bisa berbahasa Belanda.

Dengan mencari kata kunci Zainuddin Abdul Madjid akhirnya bisa dibawa pulang puluhan lembaran. Tim besar rapat dan semua buntu.

Saya tiba tiba teringat pak Umar Bakhtir. Seorang guru SMK. Saya ingat beliau bisa berbahasa Belanda. Hari itu juga kami mencari ke rumahnya di sekitar Ampenan. Hujan-hujan.

30 menit beliau membaca sambil menjelaskan artinya dan beliau bilang. Di dalam surat ini dijelaskan bahwa ada rombongan jamaah haji dari Lombok salah satunya Zainuddin Abdul Madjid. Dalam surat itu dan surat surat lainnya dijelaskan tentang perlunya memantau aktivitas para jamaah haji. Di Arab mereka menggalang kekuatan untuk kemerdekaan. 

Sangat lega. Sangat lega. Membantah asumsi Maulana Syaikh utusan NIT. Panjang lebar kami diskusi dengan Pak Umar. Banyak informasi baru kami dapatkan dari lembaran fotokopi itu dan kami bersyukur kenapa yang difotokopi Pak safwan adalah naskah yang kami cari.

Dedy Ahmad Hermansyah

Anak Empang Sumbawa. Alumni Sejarah Unhas. Dari hasil membaca beberapa dokumen, kesimpulan kami Dedy harus ke Makassar.  Mencari dokumen tentang NIT. Sebagai alumni Unhas dan sejarah, Dedy adalah andalan (Dedy tidak terlalu kenal dengan Maulana Syaikh saat itu). Dedy punya banyak teman di Makassar.

Membongkar dokumen. Membaca berkas berkas seputar NIT. Ratusan lembar. Dedy berkisah dia banyak dibantu oleh juniornya yang jago berbahasa Belanda. Dedy menyusun kisah dari pencariannya tersebut. Saya menemukan beberapa nama orang Lombok dan Sumbawa, tokoh yang terkenal ikut dalam NIT. Ikut menjadi kabinet NIT. Ikut hadir dalam kegiatan di Malino.

Defuri Ramadhani dan Maya

Nama Ide Anak Agung Gde Agung adalah tokoh NIT yang kemudian kembali ke pangkuan NKRI. Memoarnya harus kami dapatkan. Buku tentang beliau juga harus dicari. Nama ini tidak pernah sama sekali dikutip para abituren yang menulis ttg Maulana Syaikh terkait NIT.

Saya menghubungi beberapa kawan. Defuri, saat itu mahasiswa komunikasi Universitas Brawijaya Malang melaporkan jika buku itu ada di perpustakaan kampus. Tapi masuk koleksi yang hanya boleh dibaca. Saya memberikan beberapa catatan yang harus dicari. Berhari-hari  membaca buku itu dan sepertinya dia bosan. Apalagi dikejar skripsi juga. Akhirnya entah bagaimana caranya buku itu ia fotokopi. Sampul merah. 900-an halaman.

Saat yang bersamaan kawan saya Maya (wartawan Tempo) membelikan buku tekait NIT di lapak lapak buku bekas di Jakarta. Buku buku ini ketika digabung dengan dokumen kantor Arsip Nasional dan dokumen dari Makassar memberikan keyakinan tentang Maulana Syaikh bukan utusan NIT. Bagaimana mungkin dalam syair-syair beliau yang mengutarakan semangat nasionalisme justru mau masuk dalam negara boneka Belanda.

Ahyar Ros

Saat itu dia sedang galau tentang hubungan dengan pacarnya (sekarang sudah resmi menjadi istri dengan di karuniai seorang anak). Jadi seperti bujang yang patah hati dia melampiaskan membaca dan memeriksa semua bahan-bahan. Sampai tanda baca pun dia periksa. Memeriksa kesesuaian antara kutipan, daftar Pustaka, catatan kaki. Kerjanya di depan laptop full.

Cepot Doank

Menjengkelkan tapi memberikan banyak solusi. Kenapa saya katakan menjengkelkan ? Karena, saat kami debat bersitegang, ia bahkan dengan enaknya tertidur pulas dan mendengkur.

Tapi, harap maklum Cepot tidur pagi karena semalaman dia begadang. Dia yang melayout semua berkas, buku, scan foto-foto, termasuk foto buram dia perhalus. Pokoknya kalau soal tampilan dia yang urus. Jadi pagi-pagi biasanya dia beri catatan pekerjaannya. Kalau dia tidur berarti sudah beres. Tapi, jika belum selesai dan enak-enak tidue. biasanya Acif yang teriak membangunkan.

Kalau tidak ada Cepot betapa lelahnya mata tim penilai, mata para ahli, peneliti, dll yang diberikan berbagai dokumen. Seperti saya bilang berkas pengusulan ini sangat administratif. Cepot merapikan daftar isi, tata letak. Kalau di koran/majalah : sebagus apapun berita dan foto kalau layout tidak bagus, orang akan malas membaca.

Pak Suep 

Pak Suep adalah pemilik kios kecil di pojokan antara Gereja Betlehem dan tempat kami nongkrong. Di sekretariat ini kami menyimpan banyak berkas. Sering berserakan. Para ahli yang jadi tim beberapa pernah ke sekretariat itu . Pernah mencicipi kopi dan teh buatan pak Suep.

Pak Suep sering membantu merapikan dokumen. Berserakan malam hari, rapi pagi hari. Sering kami berhutang, Pak Suep rajin mencatat, siapa yang ambil kopi rokok, teh, snack, indomie telur dia catat. Jadi daftar nama orang-orang yang ikut membantu pemberkasan kemungkinan ada namanya di dalam daftar belanja Pak Suep.

Ripaal Pahrurrozi

Mahasiswa tambun ini tugasnya bagian fotokopi. Sampai dia hafal dimana lokasi fotokopi tercepat, termurah, dan pelayanannya membahagiakan. Entahlah sudah berapa ribu lembar difotokopi oleh Ripaal.

Tentu banyak lagi nama-nama yang membantu. Saya tidak ingat semua namanya. Tapi kalau wajah rasa-rasanya mungkin akan mudah saya ingat jika bertemu. 

Karena, kebetulan selama proses itu saya tukang buat kopi dan teh. Jadi saya masih ingat siapa yang ngopi banyak gula, ngopi tanpa gula, ngopi gula sedikit, ngeteh, merokok, dll.

SELAMAT HARI PAHLAWAN


Penulis adalah Komisioner KPID NTB, Manager Pada Geopark Rinjani, Mantan Jurnalis Senior Lombok Post Group dan Aktivis Literasi.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post

Adsense