Catatan Perekonomian NTB Tahun 2020 dan Prediksi Pada Tahun 2021.

Suara Selaparang - Covid-19 telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam kontraksi yang parah. Menurut perkiraan Bank Dunia, ekonomi global akan menyusut 5,2 persen tahun ini. Ini merupakan resesi terdalam sejak Perang Dunia II, dan penurunan out put perkapita terbesar sejak 1870. Menurut Bank Dunia, aktivitas ekonomi di negara-negara maju diperkirakan menyusut 7 persen pada 2020 karena permintaan dan penawaran domestik, perdagangan, dan keuangan telah sangat terganggu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I (Q1-2020) yang mencapai 2,97 dan memburuk pada II (Q2) 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen year on year (yoy). Pada triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49 persen (y-on-y). Angka ini membaik dibandingkan dengan Q2. Sehingga menyawali periode Resesi Ekonomi.

Pada level Provinsi, Perekonomian NTB sepanjang tahun 2020 pertumbuhan negatif tapi jauh lebih baik dibandingkan dengan perekonomian Nasional. Ekonomi NTB triwulan III 2020 (yoy) hanya mengalami kontraksi 1,11 persen. Namun dibandingkan triwulan sebelumnya, mengalami pertumbuhan positif 3,01 persen (q-to-q). 

Untuk data kumulatif, mulai dari triwulan I hingga triwulan III 2020, pertumbuhan ekonomi NTB melaju masih positif 0,13 persen. Pertumbuhan ekonomi NTB yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2020 mencapai Rp 34,06 triliun. Sedangkan atas dasar harga konstan 2020 mencapai Rp 23,77 triliun.

Pertumbuhan ekonomi NTB relatif lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi tetangga yaitu Provinsi Bali yang mengalami kontraksi 12,28 persen dan Provinsi NTT mengalami kontraksi sebesar 1,68 persen.

Keunikan Ekonomi NTB

Struktur ekonomi Provinsi NTB triwulan III 2020 didominasi oleh Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, diikuti Kategori Pertambangan dan Penggalian, dan Kategori Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor.

Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dengan konsep adaptasi kebiasan baru, perekonomian NTB yang sempat menurun cukup tajam pada Triwulan II 2020 mulai meningkat pada Triwulan III 2020. Hal ini terlihat dari, jumlah penumpang angkutan udara pada Triwulan III 2020 mengalami peningkatan setelah menurun cukup tajam pada Triwulan II 2020. Kondisi tersebut berdampak positif sehingga sebanyak 14 (empat belas) dari total 17 (tujuh belas) kategori lapangan usaha yang ada mampu tumbuh pada Triwulan III 2020 dibandingkan Triwulan II 2020 (q to q).

Menurut catatan Kepala OJK Provinsi NTB, Farid Faletehan, Ekonomi NTB di tengah pandemi Covid-19 tahun 2020 ini unik. Dilihat dari penyaluran kredit oleh lembaga keuangan diluar ekspektasi. Pertumbuhannya mencapai 10 kali lipat dibandingkan pertumbuhan kredit nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan tak menduga pertumbuhan kredit di NTB sedemikian progresifnya di tengah wabah Covid-19.

Mei-Juni 2020 kami perkirakan dampaknya akan sangat signifikan Covid ini. Ternyata, penyaluran kredit juga cukup signifikan pergerakannya. Artinya permintaan kredit dari masyarakat bisa jadi karena usahanya masih menggeliat.

Kredit disalurkan oleh 34 Bank Umum dan Bank Umum Syariah. dan 32 Bank Perkreditan Rakyat (BPS) dan BPR Syariah. Pertumbuhan kredit perbankan di NTB sebesar 20,74 persen (yoy).  Dengan total penyaluran Rp 50,16 T, atau jauh melampaui pertumbuhan kredit nasional yang meningkat sebesar 1,58 persen. Provinsi Bali hanya tumbuh 2,49 persen dan Provinsi NTT tumbuh 7,32 persen.

Bila dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi NTB triwulan III-2020, komponen PMTB menjadi sumber kontraksi tertinggi sebesar 2,78 persen, diikuti komponen PKRT yang menjadi sumber kontraksi sebesar 2,69 persen, dan PK-LNPRT sebesar 0,02 persen.

Sedangkan penyumbang pertumbuhan adalah komponen ekspor LN sebesar 1,99 persen dan komponen PKP sebesar 0,47 persen terhadap pertumbuhan ekonomi y-on-y yang mengalami kontraksi sebesar 1,11 persen.

Kunci “Ketahanan Ekonomi” NTB menghadapi COVID-19

Kunci ketahanan ekonomi NTB menghadapi COVID-19 triwulan III-2020 dibanding dengan triwulan II-2020 yang lalu (q-to-q) tumbuh sebesar 3,01 persen adalah adalah Sinergitas Pengelolaan Eknomi NTB oleh pemerintah Provinsi dan Kabupaten kota se NTB yang relatif lebih baik dibandingkan dengan Provinsi lainya. Hal ini menghasilkan Angka indikator ekonomi dengan pertumbuhan ekspor luar negeri yang tumbuh sebesar 43,57 persen (di dominasi oleh Pertambangan), walaupun secara faktual belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan kesejahteraan 5 juta lebih penduduk NTB. 

Komponen lainya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 10,22 persen, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) sebesar 5,36 persen dan komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 3,90 persen. Sebaliknya, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) Mengalami kontraksi sebesar 1,55 persen. Dari sisi PDRB pengeluaran, Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB hingga triwulan III-2020 secara kumulatif (c to c) mengalami pertumbuhan sebesar 0,13 persen. 

Pemerintah NTB melalui Program Pemberdayaan UMKM. Salah satu solusi yang dapat dilakukan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu dengan Pemberdayaan Ekonomi Kreatif, yang banyak digeluti oleh generasi muda Indoensia. Generasi muda memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berkembang dewasa ini banyak ditopang generasi muda.

Pemerintah Provinsi NTB  telah mengimplementasikan berbagi kebijakan ekonomi dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19 diantaranya Pelaksaaan 3 Tahap Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang dan Kebijakan Stimulus Ekonomi. Program JPS Gemilang telah mampu menggeliatkan usaha kecil ditengah ancaman resesi ekonomi, dan salah satu kebijakan stimulus Pemerintah Provinsi NTB adalah penguatan IKM/UKM dan Bela Beli Produk Lokal melalui bantuan alat produksi, penguatan teknologi & SDM.

Penguatan teknologi tersebut terlaksana salah satunya melalui Pemasaran produk UMKM NTB berbasis Digital seperti NTB Mall. Pemerintah Provinsi NTB Membantu UMKM dengan Mengembangkan aplikasi NTB MALL  (E-Commerce) untuk memasarkan produk-produk lokal NTB sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas melalui flatform digital. Sedangkan penguatan SDM salah satunya terlaksana melalui penyelenggaraan Pelatihan Digital Marketing dan kegiatan Pelatihan Bisnis bagi Wirausaha Muda NTB.

Diyakini bahwa NTB sangat memiliki potensi pengembangan ekonomi kreatif  yang digawangi genarasi Muda NTB melalui produk UMKM yang tidak kalah bersaing dengan UMKM di Indonesia lainnya, diantaranya produk teh kelor moringa yang banyak memperoleh penghargaan nasional, UMKM NTB juga berhasil memproduksi sarana permesinan seperti Coldstorage, Motor listrik, dan aneka alat permesinan lainnya yang menunjang pengolahan produk. Tak hanya itu UMKM NTB juga mampu menghasilkan APD sendiri serta sederet produk lokal NTB lainnya.

Sentra UMKM di Bazaar Mandalika akan menjadi sarana bagi UMKM NTB untuk menyambut gelaran Moto GP di tahun 2021, serta menyampaikan singkat tentang  program Mawar Emas (Melawan Rentenir berbasis Masjid) sebagai upaya Pemerintah Provinsi NTB untuk memberikan alternatif pembiayaan bagi UKM dan pedagang-pedagang kecil yang selama ini lebih nyaman dan lebih mudah meminjam ke rentenir dengan berbunga tinggi. 

Pertumbuhan Ekonomi NTB 2020 dan Prediksi 2021

Sejalan dengan kondisi nasional, perekonomian NTB juga terus membaik yang tercermin dari kurangnya kontraksi pertumbuhan dari -1,40 persen di triwulan II-2020 menjadi -1,11 persen pada triwulan III-2020. Seperti yang saya jelaskan diatas secara triwulan, perekonomian NTB tumbuh positif 3,01 persen pada triwulan III-2020 dibandingkan triwulan sebelumnya.

Diperkirakan pada triwulan IV 2020, perekonomian NTB akan tumbuh positif pada kisaran 0.5 persen sampai dengan 1 persen sehingga pada 2020 perekonomian diproyeksikan akan tumbuh positif pada kisaran 0,1 persen sampai dengan 0,3 persen.

Sementara pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi NTB relatif Sulit diprediksi karena masih belum selesainya urusan Covid-19 bahkan ditemukan adanya varian baru Covid-19 yang mengganggu 3 pondasi perekonomian NTB yaitu produksi-distribusi-konsumsi. Namun demikian ekonomi NTB diperkirakan  tumbuh sebesar 3 persen hingga 4 persen. 

Indikator terjaganya pertumbuhan ekonomi NTB juga bisa dilihat dari inflasi NTB pada bulan November 2020 yang masih di koridor yang baik yaitu 0,03 persen lebih rendah dibanding inflasi nasional yang sebesar 1,59 persen. Angka Inflasi ini lebih rendah dari target pemerintah sebesar kisaran 2 persen hingga 4 persen. Untuk keseluruhan tahun 2020, inflasi diproyeksikan akan tumbuh di kisaran 0,3 persen sampai dengan 0,7 persen.

Penulis : DR. H. Iwan Harsono, SE., M.Ec.

(Alumni University of New England Armidale Australia, Dosen Pasca Sarjana Universitas Mataram, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Mataram)

Email : iwanharsono@unram.ac.id handphone : 081333830030 dan 0817361455

 

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Adsense

Promo