H-1 Adakah Serangan Fajar ?, Ini Jawaban Pengamat Politik UIN Mataram.

Mataram, Suara Selaparang - Pilkada serentak yang akan dilaksanakan besok pada hari Rabu, (09/12/2020) di 7 Kabupaten/Kota di Provinsi NTB tinggal hitungan jam. Namun ada hal yang menarik yang menjadi perbincangan publik saat menjelang pelaksanaan Pilkada, yaitu istilah "Serangan Fajar".

Meluruskan istilah tersebut, pengamat politik UIN Mataram, Dr. Ihsan Hamid, MA.Pol., kepada Suara Selaparang menerangkan, memang tidak banyak pemilih yang bisa diyakinkan hanya dengan visi-misi, maka disitu lah kadang langkah pamungkas dilakukan oleh Tim Paslon untuk meyakini pemilih dengan aliran logistik.

"Nah, Aliran Logistik itu bisa berbentuk uang dan bisa juga berbentuk barang. Dan itu sudah banyak sekali calon yang melakukan apabila bentuk barang, tinggal uang ini yang kadang sangat ditunggu apakah akan ada tembakan dengan serangan fajar atau tidak?, dan saya yakin itu pasti ada dari desas desus yg kita dengar," jelasnya.

Pengamat politik asal UIN Mataram ini mengatakan pasti akan ada yang melakukan serangan fajar, walapun tidak semua calon. Tapi Ia menjelaskan lebih lanjut jika akan ada pola-pola yang dilakukan oleh tim dari masing-masing calon yang akan melakukan serangan fajar tersebut.

Ada yang akan menggunakan pola-pola klasik, yaitu dengan cara mengalirkan logistik dari tim sukses ke tim sukses ataupun dari tim sukses ke pemilih langsung, bisa saja dilakukan H-1 atau bahkan tidak menutup kemungkinan dilakukan tengah malam juga," ujarnya.

Serangan fajar itu bisa saja dilakukan tengah malam, intinya bagaimana logistik yang akan disalurkan ke pemilih tersebut tidak dipergoki oleh petugas, karena apabila dipergoki oleh petugas ya pasti akan di proses langsung, nah kecuali petugas itu sendiri sudah ada kongkalikong dengan salah satu calon, maka pasti akan didiamkan begitu saja tanpa diproses," lanjutnya.

Ihsan Hamid sapaan akrabnya jelas menegaskan agar istilah-istilah seperti ini (Red-serangan fajar) harus bisa dihilangkan di kontestasi Pilkada ini. Ia berharap kepada seluruh aparatur negara dari tingkat Kepala Dusun hingga pihak penyelenggara agar tetap melakukan edukasi kepada masyarakat untuk menghilangkan dan menolak kebiasaan berfikir masyarakat yang terjerumus ke istilah money politik tersebut.

Selain Edukasi, menurutnya, pihak penyelenggara baik KPU, Bawaslu dan aparat yang berwenang itu harus lebih kreatif dalam mengantisipasi serangan fajar, karena menurutnya tim calon ini kadang sangat kreatif, ketika dihadang dengan satu cara, maka Dia memiliki 5 cara lain untuk melewati hadangan tersebut, maka di sini pihak penyelenggara harus jauh lebih kreatif, apabila calon dengan 5 cara maka pihak penyelenggara dengan 10 cara," ungkapnya. 

Di akhir penjelasannya, Ihsan Hamid berpesan, agar seluruh elemen masyarakat berbondong-bondong ke TPS untuk memilih paslon yang memang benar-benar memliki visi-misi yang dapat terukur dan teruji, bukan mengharapkan hal-hal yang istilahnya belum pasti. 

"Ya, kita niatkan saja setiap satu suara yang kita berikan dan setiap satu langkah yang kita lakukan ketika menuju TPS itu sebagai amal ibadah saja," himbaunya.

Pengamat politik asal UIN Mataram ini juga berharap kepada pihak penyelenggara dan seluruh aparatur negara agar benar-benar netral, benar-benar menjadi contoh yang baik dalam proses Pilkada ini, sehingga tidak ada yang terindikasi untuk masuk angin oleh salah satu paslon yang akan bertanding, sehingga masyarakat memilih atas landasan kesadaran jika paslon yang dipilih tersebut bisa membawa perubahan kedepannya.


SS-AD

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Adsense

Promo