Terkait Hasil Survei, Astar Hadi Ingatkan Angka Statistik Bisa Digunakan Untuk Menipu.

Lombok Tengah, Suara Selaparang - Makin mendekati pelaksanaan pemungutan suara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) 2020, tak bisa dipungkiri iklim politik makin hangat, bahkan di beberapa tempat memanas. Beragam cara dilakukan oleh masing-masing (tim) pasangan calon, tidak terkecuali di Lombok Tengah. Salah satunya dengan menebar beragam hasil survei, baik yang dipublikasi melalui media massa (online maupun cetak) atau yang di posting/share di media sosial.

Mencermati beragam tebaran hasil survei tersebut, maka hampir bisa dipastikan, semua pasangan calon saat ini, khususnya di Pilkada Lombok Tengah, belum ada yang bisa tidur nyenyak hingga hari H pencoblosan. Demikian disampaikan Bapilu Demokrat Provinsi NTB, Astar Hadi.

Pria yang pernah lama malang-melintang dalam survei-survei politik di Jakarta dan Jawa Timur ini, menjelaskan bahwa sejumlah contoh kasus mengindikasikan bahwa hasil yang dikeluarkan lembaga survei, baik itu yang bertaraf nasional maupun lokal, tak selalu sesuai dengan prosentase kuantitatif yang ditampilkan. Bahkan, imbuhnya, tak jarang hasil survei berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.

“Rilis resmi Lembaga Survei Indikator yang memenangkan Maiq-Meres dengan angka cukup fantastis di angka 45 persen lebih, itu ya sah-sah saja. Semua pihak harus menghormatinya. Tapi, tidak sedikit kasus kita temukan kalau ternyata hasil bisa berbeda setelah pencoblosan. Apalagi manusia itu bersifat dinamis,” paparnya, Jumat (04/12/2020).

Lalu kenapa, pasca pencoblosan, bisa terjadi perbedaan dari hasil survei?

Astar Hadi menjelaskan bahwa validitas hasil survei pada dasarnya objektif dan dianggap sebagai representasi dari realitas yang nantinya muncul sejauh itu dilakukan dengan kerangka kerja metode yang benar. Sejumlah kemungkinan, lanjutnya, seperti factor human error bisa menjadi penyebab survei itu tak memenuhi standar objektivitas sehingga menyebabkan hasil yang bias dan tak sesuai.

“Human error ini tak jarang terjadi. Entah karna surveyor yang ngisi di bawah pohon, bisa karna factor X yang membuat suatu lembaga memaksakan hasil, dan macam-macam. Kalau kayak gini, saya pastikan itu tak akan objektif hasilnya”, kilahnya.

Di lain pihak, dengan mengutip buku “How to Lie with Statistic”, Astar mengingatkan bahwa angka-angka statistik juga bisa digunakan untuk menipu.

Menurutnya, agar setiap statistik mampu memberikan hasil yang akurat, sampel yang digunakan harus representatif. Oleh karena itu, ketika melihat statistik yang mengklaim dapat secara akurat menggambarkan hasil tertentu, ia mengatakan, bahwa semua itu tergantung pada metode pengambilan sampel yang digunakan. 

Apakah sampel yang digunakan representatif atau tidak? Atau malah sampel responden berada di lokasi mayoritas pendukung salah satu calon? Hasil statistik yang akurat memang butuh biaya, waktu, dan tenaga yang besar.

“Hal ini tentu saja tidak mudah, apalagi ditambah dengan penyumbang dana di balik dari hasil statistik tersebut,” sebutnya.

Ditanya lebih jauh soal hasil Indikator yang dianggap sebagai lembaga kredibel dengan memenangkan Maiq Meres pada angka yang signifikan, pria yang sedang menempuh studi pasca sarjana di Universitas Mataram ini tidak membantahnya. 

Dirinya hanya menegaskan bahwa di tengah konstelasi politik yang seru dengan lima pasangan calon, justru jarak antara masing-masing calon tidak akan terlalu jauh. Karna, menurutnya, di tengah ketatnya persaingan dan posisi calon yang sama-sama memiliki keunggulan tertentu, tidak mudah untuk meraih prosentase suara di atas dua digit.

“Saya tak hendak membantah hasil Indikator. Saya cuma mau bilang, sebagai warga Lombok Tengah yang juga melihat perkembangan secara langsung, bagaimana sengitnya kontestasi ini, termasuk pemetaan-pemetaan politik yang coba saya lakukan secara partisipatif, selisihnya tidak sampai lima persen," ujarnya. 

"Kalau boleh saya sebut, nomor urut 2, 3 dan 4 akan bersaing ketat. Malah akhir-akhir ini nomor urut 1 mulai tampil trengginas dan layak diantaisipasi”, pungkasnya.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Adsense

Promo